Jangan Lupakan Hasrat Suami

Dalam buku yang didedikasikan untuk kaum lelaki, aku telah  menyebutkan bahwa mereka harus berbesar hati memahami kondisi istri di awal-awal kehidupan rumah tangga. Sebab, pendidikan dan pertumbuhan anak gadis dalam masyarakatku menutup rapat-rapat dan memberikan gambaran yang menakutkan terkait masalah perkawinan, sehingga menanamkan rasa takut dan gentar di hati anak gadis. Akibatnya, muncul sikap pasif, terlalu berhati-hati dan monoton.

Berbesar hati di sini tidak berarti istri dibenarkan tetap dalam kondisi pasifnya, tanpa berusaha melepaskan diri dari pengaruh pendidikan tersebut. Tetapi ia mesti bekerja sama dengan suami untuk menempuh cara-cara syar’i yang dapat membahagiakan dan memuaskan keinginan-keinginan suami, sehingga kesuciannya benar-benar terjaga. Berapa banyak istri yang membanggakan diri bahwa ia berinteraksi dengan suaminya seolah-olah ia seorang tentara atau polisi (yang diam tak bergerak). Sepertinya ia ingin menegaskan perilakunya yang sopan, hasil baik pendidikan dirinya, dan menyindir wanita-wanita lain yang tidak menempuh cara ini.

Aku pernah mendengar dari sebagian mereka yang dengan bangganya mengatakan bahwa selama 9 tahun berumah tangga, ia belum pernah mengatakan kalimat ‘aku mencintaimu’ kepada suaminya. Ia tidak siap mengungkapkan kalimat ini kepadanya sampai suami memintanya. Wanita ini tidak sadar bila perilakunya ini bisa mendorong suami mencari ungkapan cinta ini dari istri lain, dan dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Atau, suami akan menyimpang dari jalan yang benar, sedang istrilah yang menyebabkannya menempuh jalan sesat itu (selingkuh).

Aku pernah membaca artikel di sebuah majalah dengan judul “Para Suami Sering Mengunjungi Rumah Bordir. “[1] Kenyataan ini sangat menyakitkanku dan membuat diriku begitu prihatin pada kondisi masyarakat kita dewasa ini. Dengan mengutip sebagian isi artikel tersebut, aku tidak bermaksud memberi alasan laki-laki, atau melegalkannya melakukan tindakan-tindakan tak terpuji ini. Tetapi aku hanya ingin menjelaskan bahwa ini masalah besar, sangat berbahaya, dan berdampak buruk bagi suami, istri, keluarga dan masyarakat.

  1. M seorang insinyur 49 tahun mengatakan, “Sepanjang umur aku bekerja di salah satu negara Arab hingga aku dapat memberikan kehidupan finansial yang membahagiakan istri dan empat anakku. Dalam satu tahun, aku pulang ke tanah airku selama satu bulan penuh. Aku menjalani kehidupan ini lebih dari 20 tahun sampai anak-anakku selesai dari jenjang pendidikan mereka. Tiba-tiba aku merasa diriku seperti mesin penggiling yang terus beroperasi untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Surat-surat istriku yang dikirimkan kepadaku semuanya berisi problem anak-anak, kesedihan, kegundahan, harga yang melambung, dan pengeluaran yang banyak. Sepanjang 20 tahun istriku belum pernah menulis satu pun kalimat cinta kepadaku.”

Ia menambahkan, “Aku merasa usiaku habis dalam kesepian, dan aku seperti sapi yang terus bekerja memutar kincir air. Mana kehidupanku? Di mana usiaku? Di mana kebahagiaanku? Perasaanku sama sekali tak diperhatikan. Sungguh aku tidak menjalani hidupku. Tak ada kata-kata manis. Tak ada ungkapan manja. Tak ada kalimat basa-basi. Tak ada cinta!

Tanpa sengaja, di sebuah bank, aku bertemu seorang wanita bule cantik dan bertubuh langsing. Ia berkata kepadaku, ‘Anda boleh menghubungiku.’ Tanpa berpikir panjang aku segera mengunjunginya di sebuah apartemen. Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, tapi banyak menemui rambu-rambu lalu lintas yang seolah-olah berkata kepadaku, ‘Wahai mataku, wahai jiwaku, wahai hatiku engkau telah begitu lelah, silahkan menikmati segelas air teh manis ini.’ Akhirnya, aku bertemu dengannya tanpa perjanjian terlebih dahulu.

Awalnya aku sudah yakin wanita ini bukan wanita baik-baik. Tetapi, setelah seperempat jam berbicara dengannya, aku terjerat hawa nafsunya, dan aku melakukan hubungan terlarang dengannya. Setelah itu aku sadar, yakni setelah aku mengetahui siapa sebenarnya wanita tersebut. Aku menyesali perbuatanku ini. Tetapi ini satu kisah yang pernah terjadi dalam hidupku.”

Lelaki lain mengungkapkan bahwa sebab kepergiannya ke rumah bordir lantaran istri terlalu bersemangat menghindari hal-hal yang tidak baik dan menolak diajak berhubungan intim dengan alasan yang terkesan santun dan hormat. Istri itu mengambil segala sesuatu dan tidak memberi kecuali sedikit. Sedangkan wanita-wanita pelacur itu mereka sangat memahami psikologi lelaki, mengambil sedikit dan memberi banyak.

Seorang dokter terkenal spesialis penyakit wanita –ia pernah menikah beberapa kali, dan ketika gagal membina rumah tangga, ia kecanduan kencan dengan para wanita kupu-kupu malam– terang-terangan mengungkapkan bahwa tak ada istri-istri sejati. Seorang istri hanya menginginkan perjanjian hitam di atas putih yang menjamin masa depan kebutuhan materinya, dan sepanjang usia ia terus memeras lelaki, tanpa mau memberinya minum air kehidupan.

Dokter ini mengungkapkan sebab ia meninggalkan istrinya, “Aku pulang dari rumah sakit setelah menjalani pekerjaan yang melelahkan dan mendapati istriku memakai baju tidur, rambutnya acak-acakan, bau bawang merah dan bawang putih tercium dari tubuhnya. Ia menghidangkan makanan di atas meja hanya sebatas kewajiban dan berbicara denganku tentang masalah uang belanja. Kemudian saat malam tiba, aku kembali dari klinik dan mendapatinya tertidur pulas dengan gaun yang sama.

Seorang istri ketika telah mendapat jaminan materi dari suaminya, ia tidak balik memberinya perhatian sama sekali. Ia menganggapnya seperti bank pemberi modal saja. Tak mau tahu kebutuhan emosi dan biologis suami. Percayalah kepadaku, lelaki yang kehidupan seksualnya baik ia berhasil dalam kehidupannya, karirnya dan relasinya dengan keluarga maupun orang lain.

Dari situ, aku mulai mencuri-curi waktu yang tidak aku dapatkan selain bersamanya. Yakni seorang wanita yang keinginannya hanyalah menjadi wanita yang memberikan dirinya kepada lelaki yang tak pernah merasakan kecantikan-kecantikan wanita!

Ini musibah besar. Sampai sekarang istri tidak memahami pengertian halal. Kehalalan yang sebenarnya adalah ia sungguh-sungguh berusaha memahami perasaan suami sebagai seorang lelaki dan menyerahkan tubuhnya dengan penuh gaya, cinta dan gairah, bukan sekedar menunaikan kewajiban di atas ranjang. Terakhir, aku yakin engkau sudah paham mengapa aku senang pergi ke sana!”

Tentu saja pergi ke tempat-tempat maksiat seperti ini adalah bukti kelemahan iman dan tak adanya kontrol agama dalam diri lelaki tersebut. Tetapi hal yang ingin diketahui dari permasalahan ini adalah faktor-faktor yang mendorong lelaki terjerumus ke dalam tindakan dosa ini. Sebab, wanita yang menyebabkan suaminya menempuh jalan nista ini lantaran perilaku buruknya, maka ia juga kebagian dosa. Bagian terakhir dari ucapan dokter di atas yang menuntut wanita mempraktikkan halal dan haram dengan sebenar-benarnya itu memang tepat, dan tak perlu diperjelas.

 

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Ya Ma’syarar Nisa’ Rifqan bir Rijal, Dr. Najah binti Ahmad Zhihar, ei.hal. 78-83.

 

Catatan :

[1] Majalah Kullun Nas, tahun 4 edisi 186, 21 Desember/7 Jumadil Akhir, 1412 H.

 

Bagikan Halaman :

Previous Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Posts

🕌 Jadwal Sholat
Bogor, Jawa Barat
--:--:--
Sholat berikutnya: Loading...
🌙
Subuh
--
🌅
Syuruq
--
☀️
Dzuhur
--
🌤️
Ashar
--
🌇
Maghrib
--
🌌
Isya
--

Kamu Mau Gabung Program Kebaikan ?

Mari bersama menghadirkan kepedulian melalui program Al Hisbah Peduli. Setiap bantuan yang diberikan menjadi langkah nyata untuk membantu dan berbagi kepada sesama.

Yayasan Al Hisbah adalah yayasan yang menaruh perhatian pada amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah kepada Allah ta’ala. Didirikan pada tahun 1431 H/2009 M.

Hisbah.or.id adalah situs media Islam online yang menyajikan berbagai konten Islam bermanfaat, dengan tujuan menyebarluaskan pengetahuan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan berbagai intisari Islam. Materi yang disajikan meliputi: artikel, eBook, audio, video dan poster dakwah.

Kontak Kami

Nomor Whatsapp / Telepon :

+6285883752092

Alamat Email :

yayasanalhisbah@gmail.com

Alamat Kantor :

Blok Pala, Jl. Raya Ciapus, Tamansari, Kec. Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610