"Bertaubat dan Saling Menasihati: Jalan Menyelamatkan Diri dan Negeri dari Bencana"

“Bertaubat dan Saling Menasihati:

 Jalan Menyelamatkan Diri dan Negeri dari Bencana”

KHUTBAH PERTAMA

Mukaddimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah Jumat pada hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: marilah kita senantiasa memelihara dan meningkatkan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakwaan yang sebenar-benarnya, yakni menjunjung tinggi perintah-perintah-Nya serta menjauhi segenap larangan-Nya. Karena sungguh, tidak ada perisai yang paling kokoh untuk melindungi manusia dari kehancuran di dunia dan azab di akhirat selain ketakwaan kepada Sang Pencipta.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Bencana alam, kerusakan lingkungan, krisis moral, serta ketidak tenangan hidup yang marak terjadi belakangan ini sering kali disikapi secara dangkal oleh sebagian besar manusia. Banyak orang melihat musibah dan kehancuran alam sebatas sebagai fenomena alamiah belaka, atau kegagalan tata kelola semata. Padahal, jika kita merujuk kepada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, terdapat kaitan sebab-akibat yang sangat erat antara maksiat yang dilakukan manusia dengan timbulnya bencana serta tertimpa kemalangan di atas bumi ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hakikat ini secara terang benderang dalam Surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Para ulama tafsir menerangkan bahwa frasa bima kasabat aidin-nas (disebabkan perbuatan tangan manusia) tidak hanya mencakup pada dosa kemaksiatan, kelaziman berbuat zalim, dan pengabaian atas hukum-hukum Allah tapi juga mencakup kerusakan fisik, seperti menebang pohon sembarangan, mencemari air, dan mengeksploitasi alam tanpa batas. Ketika maksiat merebak, tatanan keberkahan bumi tercabut, sehingga bumi dan laut bereaksi menimbulkan kesulitan hidup bagi manusia. Namun perhatikanlah ujung ayat tersebut yaitu Allah menimpakan dampak buruk itu bukan untuk membinasakan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dalam bentuk teguran keras agar manusia sadar dan yarji’uun kembali bertaubat kepada-Nya.

Oleh karena itu, ada dua pilar penyembuh dan pencegah bencana yang wajib ditegakkan oleh setiap individu dan masyarakat:

  1. Bertaubat dan Menyadari Dosa Diri

Sering kali ketika musibah melanda, kita sangat cepat menuding pihak lain atau menyalahkan takdir. Padahal langkah pertama dan utama yang diperintahkan Islam adalah muhasabah, mengintrospeksi dosa pribadi masing-masing. Boleh jadi, tertahannya hujan, timbulnya bencana, atau rusaknya ketenteraman di tempat kita merupakan buah dari dosa-dosa kecil yang terus-menerus kita remehkan dan lakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok insan pilihan yang telah dijamin ampunan atas seluruh dosanya yang lalu dan yang akan datang, memberikan teladan taubat yang begitu luar biasa. Beliau bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara penuh:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! Karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim)

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma’sum bertaubat seratus kali sehari, lantas betapa dahsyatnya kebutuhan kita yang setiap saat bergelimang maksiat, kesombongan, kezaliman, serta dosa mata, lisan, dan hati? Bertaubat secara individu, dengan menyesali kesalahan, menghentikan kemaksiatan, bertekad tidak mengulanginya, serta menunaikan hak sesama manusia adalah fondasi pertama untuk mengundang kembali rahmat Allah dan menepis bala.

  1. Saling Menasihati dan Menegakkan Amar Makruf Nahi Mungkar secara Kolektif

Sidang Jumat yang diberkati Allah,

Kesalehan individu yang sifatnya egois tidak cukup untuk membentengi sebuah bangsa dari kemurkaan Allah. Suatu masyarakat yang di dalamnya terdapat orang-orang saleh tetapi mereka bersikap apatis dan membiarkan kemaksiatan merajalela di sekelilingnya, tetap berisiko terkena dampak bencana secara umum.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menekankan hal ini dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Asr ayat 1-3 secara utuh:

(3)وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Dalam ayat ini, keselamatan dari khusr (kerugian dan kehancuran) dipersyaratkan bukan hanya dengan beriman dan beramal saleh secara pribadi, melainkan diiringi dengan pilar ketiga dan keempat: watawaashau bil-haqqi watawaashau bis-shabr yaitu keberanian dan kepedulian untuk saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.

Untuk menggambarkan betapa vitalnya peran amar makruf nahi mungkar (mencegah kemungkaran dan mengajak kebaikan) bagi keselamatan bersama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan matang dalam hadis sahih meriwayatkan Imam Bukhari lengkap:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْنُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang mengundi tempat di atas sebuah kapal. Sebagian dari mereka mendapatkan tempat di bagian atas kapal dan sebagian lagi di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bagian bawah, apabila ingin mengambil air, harus melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita melubangi saja kapal ini di bagian kita sendiri (untuk mengambil air langsung), tentu kita tidak akan mengganggu orang-orang yang ada di atas kita.’ Apabila orang-orang yang di atas membiarkan saja niat orang-orang di bawah tersebut, niscaya tenggelam dan binasalah seluruh penumpang kapal itu. Namun, apabila orang-orang di atas mencegah tangan mereka (dari perbuatan melubangi kapal), maka selamatlah mereka dan selamat pula seluruh penumpang kapal tersebut.” (HR. Bukhari)

Betapa tepatnya perumpamaan ini! Ketika perilaku merusak lingkungan, korupsi, perzinaan, kezaliman, serta pengabaian syariat dibiarkan begitu saja atas dalih “bukan urusanku”, maka pada hakikatnya kita sedang membiarkan sekelompok orang melubangi lambung “kapal” kehidupan kita. Bila kapal itu bocor dan tenggelam akibat bencana, maka orang-orang yang maksiat dan orang-orang yang diam sama-sama akan terbenam di dalamnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari uraian dalil-dalil di atas, dapat kita simpulkan bahwa bencana dan kerusakan bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan cerminan dari ulah dan kemaksiatan manusia. Keberkahan dan keselamatan suatu negeri berbanding lurus dengan kadar ketaatan dan kesigapan masyarakatnya dalam saling menjaga.

Oleh sebab itu, sebagai ikhtiar nyata dan solusi praktis untuk membentengi diri serta lingkungan kita dari ancaman kerusakan dan bencana, marilah kita amalkan langkah-langkah konkret berikut:

  1. Memperbanyak Istigfar dan Taubat Harian di Rumah Tangga:

Jadikan istigfar dan penyesalan atas dosa sebagai rutinitas harian keluarga. Izinkan hati kita tunduk dan mengakui kelemahan di hadapan Allah saat shalat malam maupun setelah shalat fardhu.

  1. Menghidupkan Budaya Nasihat yang Santun (At-Tawaashu):

Mulai dari lingkup terkecil, keluarga, tetangga, dan rekan kerja. biasakan untuk saling mengingatkan tatkala timbul kelalaian. Gunakan pendekatan yang lembut, bijak, serta penuh rasa kasih sayang, bukan dengan niat mempermalukan atau menghakimi.

  1. Menjaga Kelestarian Lingkungan sebagai Bawaan Iman:

Terapkan amar makruf dalam menjaga alam: tidak membuang sampah sembarangan, menghentikan penebangan pohon secara liar, merawat fasilitas umum, serta menolak segala bentuk perusakan alam di sekitar tempat tinggal kita.

  1. Aktif dalam Kegiatan Kemasyarakatan & Sosial:

Dukung kegiatan keagamaan, majelis ilmu, serta gerakan kepedulian sosial yang mengarahkan masyarakat menuju ketaatan dan mencegah penyakit-penyakit sosial di lingkungan kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, menganugerahkan lisan yang gemar beristigfar, hati yang mau menerima nasihat, serta menjadikan negeri kita negeri yang aman, tenteram, dan terhindar dari segala bentuk bencana. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالظَّلَامَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا إِنْدُونِيسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Youtube Hisbah Tv 
Facebook
Instagram

Bagikan Halaman :

Previous Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Posts

  • All Posts
  • AKHLAQ
  • AKIDAH
  • ARTIKEL ISLAM
  • DAKWAH
  • fikih
  • KHUTBAH
  • Umum
    •   Back
    • Belajar Islam
    • Hukum Islam
    •   Back
    • Kajian Rutin
    • Tabligh Akbar
    • Taklim
    • Kajian Muslimah
    •   Back
    • Khutbah Jum'at
    • Khutbah Hari Raya
    • Khutbah Umum
Load More

End of Content.

🕌 Jadwal Sholat
Bogor, Jawa Barat
--:--:--
Sholat berikutnya: Loading...
🌙
Subuh
--
🌅
Syuruq
--
☀️
Dzuhur
--
🌤️
Ashar
--
🌇
Maghrib
--
🌌
Isya
--

Kamu Mau Gabung Program Kebaikan ?

Mari bersama menghadirkan kepedulian melalui program Al Hisbah Peduli. Setiap bantuan yang diberikan menjadi langkah nyata untuk membantu dan berbagi kepada sesama.

Yayasan Al Hisbah adalah yayasan yang menaruh perhatian pada amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah kepada Allah ta’ala. Didirikan pada tahun 1431 H/2009 M.

Hisbah.or.id adalah situs media Islam online yang menyajikan berbagai konten Islam bermanfaat, dengan tujuan menyebarluaskan pengetahuan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan berbagai intisari Islam. Materi yang disajikan meliputi: artikel, eBook, audio, video dan poster dakwah.

Kontak Kami

Nomor Whatsapp / Telepon :

+6285883752092

Alamat Email :

yayasanalhisbah@gmail.com

Alamat Kantor :

Blok Pala, Jl. Raya Ciapus, Tamansari, Kec. Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610