Saudaraku…di mana pun anda berada. Berbicara tentang akhlaq yang mulia maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam adalah manusia yang paling mulia akhlaknya paling luhur budi pekertinya. Semua itu telah ia miliki sewaktu masih dalam zaman jahiliyah, sebelum masa kenabian. Lalu bagaimana dengan akhlaq dan budi pekertinya sesudah diangkat menjadi nabi? Allah telah berfirman kepadanya dengan ungkapan: (yang artinya) “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak mulia (agung)”. Nabi telah dibimbing oleh Allah dengan sebaik-baik bimbingan, di didik dengan sebaik-baik pendidikan. Oleh karenanya akhlak dan budi pekerti beliau adalah Al-Qur’an yang suci, ia berakhlaq dan berprilaku perilaku dan akhlak Al-Qur’an dan membangun manusia dengan Al-Qur’an pula. Di antara akhlak beliau adalah bahwasanya ia merupakan manusia paling penyantun, paling adil, paling suci kehormatan dirinya dan paling pemurah (dermawan). Beliau biasa menyambung tali alas kaki, menjahit pakaian yang robek, membantu keluarganya di rumah, bersama keluarganya memotong daging. Dia adalah sosok manusia yang paling pemalu, tidak mampu menetapkan pandangan pada wajah seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memenuhi undangan (ajakan) siapapun juga, ia menerima hadiah sekalipun bernilai kecil dan membalasnya; ia marah hanya karena Allah dan tidak pernah marah karena membela dirinya. Kadang-kadang beliau kelaparan hingga mengikat batu di perutnya dengan kain. Kadang ia makan apa yang ada dan tidak menolak yang ia dapat dan tidak pernah mencaci makanan. Jika ia hanya menemukan sebiji kurma ia makan dan jika menemukan sepotong daging panggangpun ia makan pula; jika ditemukannya hanya sepotong roti ia makan dan begitu pula jika hanya menemukan manisan. Bahkan sekalipun hanya seteguk susu tanpa roti beliau memakannya. Beliau suka menjenguk orang sakit dan menghadiri jenazah; dan beliau berjalan sendirian tanpa pengawal di hadapan musuh-musuhnya. Dia adalah sosok manusia yang paling merendahkan hati (tawadhu’), yang paling tenang tanpa sedikitpun ada rasa sombong, paling bagus tutur katanya tanpa dibuat-buat dan paling baik prilakunya, ia tidak takut kepada apapun dalam menghadapi urusan dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai pakaian apa adanya, kadang ia memakai syamlah (kain yang dapat menyelimuti tubuh)dan kadang jubbah dari kain wol. Pakaian apa saja yang boleh dipakai yang beliau dapatkan, ia pakai. Bersambung, insyaa Alloh.
Keutamaan Akhlak yang Baik (2)
Kaum muslimin di manapun anda berada, pada edisi yang lalu kita telah menyebutkan 2 di antara keutamaan Akhlak yang Baik sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahulloh. Selanjutnya, keutamaan akhlak yang baik lainnya adalah, (3) Dengan akhlak yang baik dapat memantapkan dakwah yang dijalankan oleh juru dakwah dan guru ( pendidik) yang mengajarkan kebaikan. Ia akan mendapatkan simpati dari masyarakat, mereka akan mendengarkan dengan hati yang senang dan siap menerima penjelasannya dengan sebab akhlak yang baik dan tidak adanya halangan yang membatasi jarak antara keduanya, Alloh berfirman, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ Artinya, Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. ( Qs. Ali Imron : 159) Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh dalam caramahnya yang berjudul “ al-Ghautsa wal Bina” mengatakan, “ terdapat kontradiksi antara ilmu yang dipelajari sebagian penuntut ilmu dan amalan mereka. Sebagian dari mereka tidak mempunyai akhlak yang baik, tidak suka bersilaturrahim, suka berdusta, mengingkari janji, kasar, bermuka masam, padahal senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, juga kurangnya peran aktifnya dalam hal amal social seperti membantu para janda, anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Hendaklah dakwah itu tidak terbatas dalam khutbah di mimbar dan ceramah di majlis ilmu, di samping itu hendaklah dibarengi dengan dakwah bil haal dan akhlak yang baik karena pengaruhnya terkadang lebih besar dari pada dakwah hanya dengan kata-kata. Allohu a’lam. Bersambung ke
Perintah Berlaku Jujur dan Larangan Berbuat Dusta
Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Wahai kaum Muslimin, marilah kita bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Marilah kita menjadi orang-orang yang jujur, berlaku baik kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada seluruh makhluk, jika kita memang benar-benar orang yang beriman. Seseorang itu selalu berlaku jujur dan membiasakannya, hingga di sisi Allah Azza wa Jalla dia di tulis sebagai orang yang jujur. Orang-orang yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, akan dicintai oleh Allah Azza wa Jalla dan dicintai oleh manusia. Adapun jujur dalam ucapan, maksudnya dia jujur dengan berita yang disampaikan serta ucapannya sesuai dengan kenyataan. Dia selalu menyampaikan berita dalam keadaan sempit maupun lapang; dalam keadaan marah maupun ridha, dalam seluruh transaksinya muamalahnya, baik berupa sewa menyewa maupun jual beli. Adapun jujur dalam perbuatan, maksudnya adalah ia mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam amal ibadahnya dan semua muamalahnya, dengan nasehat yang sungguh-sungguh. Jika dia bekerja untuk orang lain, ia pun bersungguh-sungguh dan menyelesaikannya. Kita jangan berkata dusta. Karena sesungguhnya dusta itu mengantarkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa itu menyebabkan masuk neraka. Seseorang itu bila senantiasa berbuat dusta niscaya ditulis di sisi Allah Azza wa Jalla sebagai pendusta. Dusta itu dibenci oleh Allah Azza wa Jalla dan manusia. Jika dia menyampaikan berita, beritanya tidak tsiqah (terpercaya). Ketahuilah bahwa dusta ini juga mencakup keyakinan, perbuatan dan perkataan. Dusta dalam keyakinan maksudnya adalah perbuatan manusia yang dilakukan karena riya‘(pamer) dan hanya mengharapkan pujian manusia semata. Allah Azza wa Jalla berfirman: مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.[ Hûd/11:15-16] Adapun dusta dalam ucapan, maksudnya adalah menyampaikan berita yang tidak sesuai kenyataan. Ini adalah perbuatan yang dilarang, baik perbuatan dusta itu memiliki dampak memakan harta orang lain dan menzhaliminya ataupun tidak memiliki dampak sekalipun. Semua bentuk perbuatan dusta adalah haram dan tercela, kecuali apabila memiliki maslahat yang besar, seperti dusta dalam pertempuran melawan musuh dan dusta untuk memperbaiki hubungan antara manusia guna menghilangkan perselisihan dan kebencian. Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَنَازَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحَا Aku adalah pemimpin di rumah yang ada tengah di surga bagi orang-orang yang meninggalkan dusta, walaupun dalam keadaan senda gurau.[HR. Abu Dâwud 4800 dari hadits Abu Umâmah Radhiyallahu ‘anhu] Dusta itu memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Semakin besar madharatnya, semakin besar pula dosanya. Adapun dusta dalam perbuatan, maksudnya adalah orang yang perbuatannya menyelisihi ucapannya. Seperti orang yang berpura-pura memberikan nasehat, padahal dia hendak menipu; seperti orang yang menampakkan bagian barang dagangannya yang baik-baik, padahal sebaliknya. Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya kejujuran dalam setiap bentuknya merupakan perbuatan yang terpuji. Orang yang jujur dicintai oleh Allah Azza wa Jalla dan manusia, dan Allah Azza wa Jalla akan meninggikan kedudukannya dan menambahkan pahala baginya. Dan bukti paling nyata yang menunjukkan hal itu adalah kenyataan yang terjadi berupa pujian manusia bagi orang-orang yang jujur ketika mereka masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Berita yang mereka sampaikan diterima, amanah mereka terpercaya. Sungguh beruntung orang-orang yang jujur, dan sungguh rugi orang yang berbuat dusta. Mari kita bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan menegakkan kejujuran dalam segala kondisi agar kita mendapatkan keberuntungan. Allah Azza wa jalla berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. [at-Taubah/9 : 119] (Dikutip dari Adl-Dhiyâul Lâmi‘ Minal Khuthabil Jawâmi“, karya Syaikh Muhammad Bin Shâlih Al-Utsaimîn, Juz 5/365-367) [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
Keutamaan Akhlak Yang Baik (1)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahulloh berkata, “ banyak terdapat dalam al Qur’an dan Sunnah nash-nash yang menganjurkan untuk berakhlaq yang baik dan memuji orang yang menghiasi diri mereka dengannya, serta menyebutkan keutamaan-keutamaan yang diperoleh oleh mereka yang memiliki akhlak yang mulia, disebutkan pula pengaruh-pengaruh positif berupa manfaat dan maslahat secara umum maupun khusus dari akhlaq yang baik. Bersambung Ke
Pandangan yang Benar Vs Pandangan yang Salah Terhadap Kehidupan Dunia
Saudaraku… Dunia adalah tempat kita hidup sekarang ini. Manusia di dalam memandang terhadap kehidupan dunia ini secara global terbagi menjadi dua. Pertama, ada yang memandangnya dengan pandangan yang tidak benar; dan kedua, ada yang memandangnya dengan pandangan yang benar. Bagaimanakah pandangan dengan yang tidak benar terhadap kehidupan dunia ini? dan bagaimana pula pandangan yang benar terhadap kehidupan ini? dua pertanyaan inilah yang akan kita jawab dan jelaskan dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat. Saudaraku… Jawaban atas pertanyaan “Bagaimanakah pandangan yang salah terhadap kehidupan dunia ini? “adalah“ Pandangan Materialistis “. Apa yang dimaksud dengan “ Pandangan Materialistis “? Maksudnya yaitu, pemikiran seseorang yang hanya terbatas pada bagaimana mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga apa yang diusahakannya hanya seputar masalah tersebut. Pikirannya tidak melampaui hal tersebut, ia tidak mempedulikan akibat-akibatnya, tidak pula berbuat dan memperhatikan masalah tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa Allah Ta’ala menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Allah Ta’ala menjadikan dunia ini sebagai kampung beramal dan akhirat sebagai kampung balasan. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal shalih, niscaya ia mendapatkan keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya barangsiapa menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11). Saudaraku…Allah Ta’ala tidak menciptakan dunia ini untuk main-main, tetapi Allah Ta’ala menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Qs.Al-Mulk: 2). Dia juga berfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS.Al-Kahfi: 7). Saudaraku… Demikianlah, Allah Ta’ala menjadikan di atas dunia ini berbagai kenikmatan sesaat dan perhiasan lahiriyah, baik berupa harta, anak-anak, pangkat, kekuasaan dan berbagai macam kenikmatan lain yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Di antara manusia – bahkan mayoritas – ada yang menyempitkan pandangannya hanya pada lahiriyah dan kenikmatan-kenikmatan dunia semata. Mereka memuaskan nafsunya dengan berbagai hal tersebut dan tidak merenungkan rahasia di balik itu. Karenanya, mereka sibuk untuk mendapatkan dan mengumpulkan dunia dengan melupakan amal untuk sesudah mati. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan!” (QS. Al-An’am: 29). Allah Ta’ala mengancam orang yang memiliki pandangan seperti ini terhadap dunia, sebagaimana firmanNya, artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan dunia itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8). Dia juga berfirman, artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.Hud: 15-16). Saudaraku…Ancaman di atas berlaku bagi semua orang yang memiliki pandangan materialistis tersebut, mereka yang memiliki amal akhirat, tetapi menghendaki kehidupan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang yang berpura-pura dengan amal perbuatan mereka atau orang-orang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kebangkitan dan hisab (Perhitungan amal). Sebagaimana keadaan orang-orang Jahiliyah dan aliran-aliran destruktif (merusak) seperti kapitalisme, komunisme, sekulerisme dan atheisme. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui nilai kehidupan dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lebih dari pandangan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Sebab mereka menafikan akal mereka, menundukkan kemampuan mereka dan menyia-nyiakan waktu mereka yang tidak akan kekal untuknya, juga mereka tidak melakukan amalan untuk tempat kembali mereka yang telah menunggu, dan mereka pasti menuju kesana. Adapun binatang, maka tidak ada tempat kembali yang menunggunya, juga tidak memiliki akal untuk berfikir seperti manusia, karena itu Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, artinya: “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Qs. Al- Furqan: 44). Allah Ta’ala menyifati orang-orang yang memiliki pandangan ini dengan sifat tidak memiliki ilmu. Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS.Ar-Ruum: 6-7). Saudaraku…Meskipun mereka ahli di berbagai bidang penemuan dan industri, tetapi pada hakikatnya mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas mendapatkan julukan alim, sebab ilmu mereka tidak lebih dari ilmu lahiriyah kehidupan dunia, sedang ia adalah ilmu yang dangkal, sehingga memang tidak selayaknya para pemilik mendapat gelar mulia, yakni gelar ulama, tetapi gelar ini diberikan kepada orang-orang yang mengenal Allah Ta’ala dan takut kepadaNya, sebagaimana firmanNya, artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama.” (QS.Fathir: 28). Saudaraku…ketahuilah bahwa termasuk pandangan materialistis terhadap kehidupan dunia ini adalah apa yang disebutkan Allah Ta’ala dalam kisah Qarun dan kekayaan yang diberikan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.” (QS. Al-Qashash: 79). Mereka mengangan-angankan dan menginginkan memiliki kekayaan seperti Qarun seraya menyifatinya telah mendapatkan keberuntungan yang besar, yakni berdasarkan pandangan mereka yang materialistis. Saudaraku…Demikianlah pandangan materialistis yang merupakan pandangan yang salah terhadap kehidupan dunia ini. Lalu, bagaimanakah padangan yang benar terhadap kehidupan dunia ini? Jawabnya adalah pandangan yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana untuk amal akhirat. Karena itu, pada hakikatnya dunia bukanlah tercela karena dirinya, tetapi pujian atau celaan itu tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia ini adalah jembatan penyeberangan menuju akhirat dan dari padanya bakal menuju surga. Dan kehidupan baik yang diperoleh penduduk surga tidak lain kecuali berdasarkan apa yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka dunia adalah kampung perjuangan, shalat, puasa, dan infak di jalan Allah Ta’ala, serta medan laga untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman kepada penduduk
Ketika Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- Menangis
Salah seorang murid Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Abdurrahman bin Dawud termasuk murid terbaik guru kami dan paling baik akhlaknya. Ia seorang yang dikaruniai iman dan hikmah. Ia pun dicintai masyarakat serta memiliki kedudukan di hati mereka. Ia meninggal dalam suatu kecelakaan dalam perjalanan menuju Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya bersedih mendengar beritatersebut. Kami pasrah terhadap ketentuan Allah dan takdir-Nya. Jenazahnya diletakkan setelah shalat Maghrib untuk dishalatkan oleh Syaikh rahimahullah. Kemudian jenazah dibawa ke pekuburan. Mengejutkan, setelah shalat kami kehilangan Syaikh rahimahullah. Sebagian orang berkata, “Mungkin beliau ikut mengantarkan jenazah.” Yang lain berkata, “Mungkin Syaikh berpuasa, dan sekarang beliau sedang berbuka, dan -seperti kebiasaannya- beliau akan kembali setelah seperempat jam kemudian.”Adapun sebagian orang melihat syaikh turun menuju sebuah ruangan di masjid seusai shalat Jenazah. Mereka duduk di seputar kursi tempat syaikh sambil menunggu beliau untuk mengajar sehari-sehari. Kemudian salah seorang dari murid beliau yang terkenal -yang tidak melihat syaikh setelah shalat Jenazah- memasuki ruangan yang dimasuki syaikh. Ia merasakan keterlambatan syaikh dan ia hendak menjenguk syaikh (barangkali ada di ruangan tersebut). Tiba-tiba ia bertemu dengan Syaikh rahimahullah sedang naik dari ruangan tersebut sambil menyeka aiar mata di wajahnya. Nampak jelas di wajah beliau bekas tangisan yang sangat. Sahabat kami tersebut memberi salam kepada syaikh dan naik kembali. Adapun syaikh, beliau menahan air matanya dan naik ke tempat beliau mengajar. Beliau duduk di kursinya, sedangkan para jamaah berada di sekelilingnya. Kemudian beliau mendoakan saudara kami -’Abdurrahman- agar dirahmati Allah. Beliau pun menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Kemudian beliau melanjutkan kajiannya, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu apa pun. Apa yang kami katakan? Beliau sangat teguh dan kuat, dalam keadaan yang lembut penuh keimanan. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada ‘Abdurrahman bin Dawud, dan semoga Dia juga merahmati guru kami. Sungguh, sang pengajar telah berjumpa dengan muridnya. Dan kami mengikuti jejak keduanya. Sumber: Disalin ulang dari buku “Mengapa Anda Sulit Menangis”, Abul Faraj al-Misri & Abu Thariq Ihsan b.Muhammad b.’Ayisy al-‘Utaibi, Pustaka Ibnu Umar, Hal.100-101. Judul asli: Al-bukaa-u min khasyyatillah, asbaabuhuu, wa mawaani’uhuu, wa thuruqu tahshilihii.
Percaya Penuh Kepada Allah Azza wajalla, Tidak Takluk Kepada Bayangan Buruk
Jika hati seseorang bersandar dan bertawaqal kepada Allah taa’la, tidak takluk kepada bayang-bayang buruk dan tidak pula dikuasai oleh khayalan-khayalan buruk, sedang ia percaya penuh kepada Allah Taa’la dan mendambakan karunia-Nya, maka dengan itu segala kegelisahan dan kegundahan akan tertangkis, sejumlah penyakit luar maupun dalam akan hilang darinya, dan akan tercipta di hatinya kekuatan, kelapangan dan kegembiraan yang tak mungkin terungkapkan olah kata. Berapa banyak rumah sakit dipenuhi oleh penderita akibat bayang-bayang dan khayalan-khayalan rusak. Berapa banyak hal ini meninggalkan efek buruk di hati kebanyakan orang yang kuat, lebih-lebih yang lemah. Berapa banyak ia mengakibatkan kedunguan dan sakit jiwa. Orang yang sejahtera lahir dan batin adalah orang yang dapat disejahterakan dan dikarunia taufiq oleh Allah ta’ala untuk dapat menekan jiwanya dalam rangka meraih sarana-sarana yang bermanfaat lagi mampu mengukuhkan hatinya dan mengusir keguncangan. Allah berfirman. Artinya: “Barangsiapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Yakni mencukupi segala yang dibutuhkannya baik dalam kehidupan religinya ataupun urusan duniawinya. Maka orang yang bertawaqal kepada Allah, ia berhati kuat, tidak terpengaruh oleh bayang-bayang buruk dan tidak pula terguncang oleh peristiwa-peristiwa pahit. Karena, ia mengetahui bahwa yang demikian itu adalah tanda kelemahan jiwa dan kekalahan serta ketakutan yang tidak ada wujudnya yang nyata. Ia mengetahui, di samping itu, bahwa Allah telah menjamin orang yang bertawaqal kepadaNya untuk dicukupiNya dengan sempurna. Maka, ia pun percaya penuh kepada Allah ta’al, tentram dan yakin dengan janji-Nya. Dengan itu, sirnalah kegelisahan dan keguncangannya. Kesulitan yang dihadapinya berganti menjadi kemudahan, kesedihan berganti menjadi kegembiraan, dan rasa takut serta kekhawatirannya berganti menjadi rasa aman dan tenteram. Kita memohon kepada Allah, semoga Dia mengaruniai kita kesejahteraan, kekuatan dan keteguhan hati, dengan lantaran tawaqal sepenuhnya kepada-Nya, yang dengan itu Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang yang bertawakkal segala kebaikan dan menangkis segala cobaan maupun marabahaya. [Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]

